Menggantang Nurani

menjejak di pagi hari dan menghamba di malam hari. menjejak untuk tetap setia dan harmonis dengan kebaikan. saat riak-riak godaan ‘kedegilan’ menggila dan menggoda untuk setia kepada kebaikan perlu api yang menyala, bukan hanya ada. menjejak di pagi hari, karena pagi merupakan habitat aktivitas. segala aktivitas yang senantiasa dimulai dengan bismillah dan segala niat baik.

menghamba di malam hari. rasa haru bercampur rindu ingin bertemu Tuhan, berkecamuk dalam relung jiwa para penghamba sejati. melepaskan segala ego kebodohan dan intelektualitas. mengkerdilkan segala kejayaan dunia dan mengharu biru di pusara malam. Tuhan yang baik KAU lah yang membuat detak jantung kami berdegup, terkadang kencang namun seringkali melambat. di sisi lain taqwa kami sering melambat dan sangat jarang cepat, alih-alih malah terjerembab di titik nadir ketaqwaan.

mau tidak mau, suka tidak suka. kita harus menjadi hamba yang pandai bersyukur

celoteh pagi, untuk tidak mendapatkan “cocolat*s”

heryadi silvianto

Belajar Di Penghujung Nurani

Pagi itu tenang, namun tak menghalangi angin untuk bersemayam di embun pagi. Pagi itu cerah, namun Matahari tak seangkuh ketika bertamu dipelataran beranda siang. Epik sederhana : Adik kecil itu mengantar adiknya yang masih memakai baju putih merah, bukan merah putih – paduan warna yang mulai kehilangan digdaya – dengan tenang dan berwajah ‘kaku’ tangannya melambai di hadapan sebuah angkot. Dia ingin meyakinkah kepada dua pihak: adik kecilnya dan supir angkot. Kepada si abang, karena usianya sangat muda – dengan gaya mengendarai layaknya pemuda – . adik kecil bercelana biru dengan sorot matanya, “tolong hentikan mobil anda karena adik kecil saya ingin singgah dan wajib anda antarkan sampai tujuan”. si bocah itu ingin juga meyakinkan adiknya,”bahwa aku layak menjadi kakakmu”..

Runtuh semua keangkuhan yang tertanam .. ketika adiknya naik angkot, dengan mata lirih dia menyaksikan secara perlahan adiknya duduk dengan tenang, sangat responsif dan luar biasa.. hilang semua kekauan hidup. menjadi pentingkah peristiwa itu? maaf dengan sangat perlu ditekankan, ini penting .. karena banyak bocah nakal, mereka tak pernah peduli dengan keluarga mereka serta adik kecil mereka.

jangan paksa kami kehilangan nurani, walau badai kesombongan kini sedang mendominasi di banyak sisi. Jangan hilangkan kami dari kesedihan, karena melihat perjuangan sederhana dari orang yang sangat sederhana. jangan paksa kami mencintai seseorang, di saat dia tak benar-benar tak mencintai – jauh sangat tidak cinta, setelah sebelumnya menggebu dalam cinta – . Jangan biarkan air terluka di tengah hamparan duka telaga suka. Kami hanya ingin meyakinkan anak bangsa mendapatkan haknya, jangan bicara kewajiban disaat kau tidak dapat menunaikan amanah janji kedaulatan pelayanan. sungguh bodoh, sungguh aneh … menuntut tapi tak berkontribusi (sorry om ini bahasan klasik)..

Biarlah semua menjadi bahasan lapuk, karena sesungguhnya yang lapuk itu tak pandai dikemas menjadi lebih baik sehingga ‘ia’ lagi-lagi menyesaki ruang nurani dan pemikiran kita. Sungguh saya adalah orang yang plegamtis (menurut seorang teman), tapi memang betul .. kok semakin hari semakin sedih, bukan semakin hari semakin senang. Apakah itu indikator bahwa ada pendzoliman? ataukah memang sang indikator alat kebaikannya yang telah “jebol” akan kesadaran dan pengakuan. Seharusnya boleh lah semakin hari semakin sedih, namun bergelimang kesenangan dan kesejahteraan. karena kesedihan belum banyak berkontribusi membangkitkan, disaat telah banyak memberi kemelaratan. luar biasa !! tak pernah cukup di tengah keberlimpahan, sebuah mental sosial yang sangat expansive…

Biarlah yang baik tetap baik, walau dia harus matang di tengah terpaan jaman. biarlah yang lembek mati, karena kebosanan menerima cinta sederhana. Namun jangan berikan kesempatan kepada keangkuhan untuk mendominasi, karena dia akan menularkan virus kehancuran dan keterpurukan ..gak usah disadap, gak usah di gugat, gak usah di bohongin ….

Ayolah, bolehlah kalo adik kecil itu jadi guru besar buat semua orang besar yang angkuh .. maaf ini bukan “genre” pesan-pesan hikmah di milist atau hoax yang berkeliaran di e-mail. tak meminta untuk di forward atau di reply untuk ditanggapi … jangan terlalu melihatnya terlalu mulia. karena semua ‘pabrikasi’ makna manusia.

Semoga semua ada akhir, sebagaimana ada awal untuk memulai… biarkan kami mati, sebagaimana kami awali dengan kehidupan. Karena ia ‘key’ satu-satunya cara menikmati indahnya surga …

Terima Kasih dan Terima saja ..

Heryadi Silvianto .. (jika orang bilang sering bilang “Heng” yadi, karena sering stag) mohon bantuan …

Pengaruh dua hal; Orang besar dan Buku

Orang besar adalah seseorang yang mampu menarik kesimpulan tentang hal yang besar dengan cara yang benar. Orang besar disini tentu saja bukan dalam arti yang sebenarnya dimana ada orang yang bertubuh besar dan kekar. Namun lebih pada orang yang mempunyai akses yang luas sehingga mampu memberikan effect yang luar biasa untuk orang lain. Bukan hanya keluarganya, tetangga atau kerabatnya. Namun juga orang lain yang dia tidak pernah tahu orang tersebut orang per orang secara khas. Orang besar mampu membantu seseorang untuk mengetahui sesuatu tanpa harus melihat sesuatu tersebut, karena sudah difasilitasi oleh ungkapan serta prilakunya. Ungkapan dan perilaku baik sejalan, walau ada cela itu tidak menjadi bahasa utama namun lebih pada sistem peringatan dini untuk tetap mawas diri. KETELADANAN lah yang membuat orang yang punya pengaruh luar biasa tersebut menjadi berharga di mata yang lain.

Buku merupakan salah satu akses informasi. Informasi ada untuk mengurangi ketidakpastian dan kecemasan. Ketidakpastian berita dan cerita tentang sebuah peristiwa. Buku merupakan gambaran yang paling utuh tentang manfaat ilmu pengetahuan, walau sekarang telah banyak rupa buku di bentuk. Dari mulai e-book hingga internet. Tapi esensi dari semua itu, buku merupakan rahim utama dari proses regenerasi peradaban. dia merekam sejarah yang panjang, dalam lintasan kertas. memanjakan cerita dengan kesan dan opini. betulah apa yang diungkapkan pepatah “bahwa buku merupakan jendela dunia”.

Memaknai Jiwa dan Rasa

tumbuh dengan semangat dan perasaan yang mengharu biru, tentu setiap waktu senantiasa menawarkan sensasi yang berbeda. jiwa dan rasa bisa jadi merupakan dua hal yang berbeda namun dia memiliki sentuhan yang bisa jadi sama. berbagi adalah dibangun dengan jiwa kedermawanan sedangkan rasa yang timbul adalah puas, haru, sedih atau bahkan bahagia. semuanya bisa terjadi dalam satu kali pergulatan perasaan atau hadir dalam penggalan-penggalan waktu yang berbeda-beda. dilecehkan, dicemooh, dihakimi merupakan bentuk penyiksaan atas rasa, namun senantiasa harus mampu memupuk dan memompa jiwa yang luas seluas bumi dan seterang mentari

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.