Pagi itu tenang, namun tak menghalangi angin untuk bersemayam di embun pagi. Pagi itu cerah, namun Matahari tak seangkuh ketika bertamu dipelataran beranda siang. Epik sederhana : Adik kecil itu mengantar adiknya yang masih memakai baju putih merah, bukan merah putih – paduan warna yang mulai kehilangan digdaya – dengan tenang dan berwajah ‘kaku’ tangannya melambai di hadapan sebuah angkot. Dia ingin meyakinkah kepada dua pihak: adik kecilnya dan supir angkot. Kepada si abang, karena usianya sangat muda – dengan gaya mengendarai layaknya pemuda – . adik kecil bercelana biru dengan sorot matanya, “tolong hentikan mobil anda karena adik kecil saya ingin singgah dan wajib anda antarkan sampai tujuan”. si bocah itu ingin juga meyakinkan adiknya,”bahwa aku layak menjadi kakakmu”..
Runtuh semua keangkuhan yang tertanam .. ketika adiknya naik angkot, dengan mata lirih dia menyaksikan secara perlahan adiknya duduk dengan tenang, sangat responsif dan luar biasa.. hilang semua kekauan hidup. menjadi pentingkah peristiwa itu? maaf dengan sangat perlu ditekankan, ini penting .. karena banyak bocah nakal, mereka tak pernah peduli dengan keluarga mereka serta adik kecil mereka.
jangan paksa kami kehilangan nurani, walau badai kesombongan kini sedang mendominasi di banyak sisi. Jangan hilangkan kami dari kesedihan, karena melihat perjuangan sederhana dari orang yang sangat sederhana. jangan paksa kami mencintai seseorang, di saat dia tak benar-benar tak mencintai – jauh sangat tidak cinta, setelah sebelumnya menggebu dalam cinta – . Jangan biarkan air terluka di tengah hamparan duka telaga suka. Kami hanya ingin meyakinkan anak bangsa mendapatkan haknya, jangan bicara kewajiban disaat kau tidak dapat menunaikan amanah janji kedaulatan pelayanan. sungguh bodoh, sungguh aneh … menuntut tapi tak berkontribusi (sorry om ini bahasan klasik)..
Biarlah semua menjadi bahasan lapuk, karena sesungguhnya yang lapuk itu tak pandai dikemas menjadi lebih baik sehingga ‘ia’ lagi-lagi menyesaki ruang nurani dan pemikiran kita. Sungguh saya adalah orang yang plegamtis (menurut seorang teman), tapi memang betul .. kok semakin hari semakin sedih, bukan semakin hari semakin senang. Apakah itu indikator bahwa ada pendzoliman? ataukah memang sang indikator alat kebaikannya yang telah “jebol” akan kesadaran dan pengakuan. Seharusnya boleh lah semakin hari semakin sedih, namun bergelimang kesenangan dan kesejahteraan. karena kesedihan belum banyak berkontribusi membangkitkan, disaat telah banyak memberi kemelaratan. luar biasa !! tak pernah cukup di tengah keberlimpahan, sebuah mental sosial yang sangat expansive…
Biarlah yang baik tetap baik, walau dia harus matang di tengah terpaan jaman. biarlah yang lembek mati, karena kebosanan menerima cinta sederhana. Namun jangan berikan kesempatan kepada keangkuhan untuk mendominasi, karena dia akan menularkan virus kehancuran dan keterpurukan ..gak usah disadap, gak usah di gugat, gak usah di bohongin ….
Ayolah, bolehlah kalo adik kecil itu jadi guru besar buat semua orang besar yang angkuh .. maaf ini bukan “genre” pesan-pesan hikmah di milist atau hoax yang berkeliaran di e-mail. tak meminta untuk di forward atau di reply untuk ditanggapi … jangan terlalu melihatnya terlalu mulia. karena semua ‘pabrikasi’ makna manusia.
Semoga semua ada akhir, sebagaimana ada awal untuk memulai… biarkan kami mati, sebagaimana kami awali dengan kehidupan. Karena ia ‘key’ satu-satunya cara menikmati indahnya surga …
Terima Kasih dan Terima saja ..
Heryadi Silvianto .. (jika orang bilang sering bilang “Heng” yadi, karena sering stag) mohon bantuan …